Dari Pelarian hingga Kematian

Oleh: Nur Ijazatin Septia

 

Pada era ini, kehidupan semakin berkembang dalam berbagai bidang. Teknologi, pendidikan, perekonomian, kesehatan dan seluruh bidang lain. Seiring dengan berkembangnya bidang-bidang tersebut, gaya hidup dan perilaku masyarakatnyapun ikut berubah mengikuti perkembangan tersebut. Dari situlah timbul dampak yang kadang justru bisa menghancurkan kemajuan itu sendiri. Hal inilah yang menjadi permasalahan umum di setiap negara, yakni pengendalian perilaku manusia agar tak menimbulkan permasalahan yang lebih besar bagi kemaslahatannya.

Kemajuan yang seolah tak bisa dikendalikan karena tuntutan zaman menjadikan manusia lebih sibuk, lebih tertuntut untuk melakukan hal lebih, lebih dan lebih lagi. Rasa lelah dan frustasipun akan terus menjadi pengiring di kehidupan yang semakin sibuk ini. Mereka semakin membutuhkan ketenangan yang bersifat instant dan dapat ‘membuat’ mereka merasa senang. Ya, disinilah hal yang terus membuat narkoba ‘seolah’ dibutuhkan oleh mereka yang membutuhkan ketenangan dan kesenangan secara instant.

Sudah bukan hal yang mengherankan lagi jika ada orang-orang yang berada di lingkungan kita ternyata ‘bersentuhan’ dengan narkoba. Apalagi dikalangan pemuda-pemuda bangsa. Miris sekali jika mau memikirkan hal ini lebih dalam. Generasi penerus bangsa yang telah acuh pada negaranya, pada bangsanya, pada keluarganya dan bahkan pada hidupnya. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan apapun jika telah mengenal barang haram ini. Inilah yang menjadi pokok bahasan dan pokok permasalahan serta menjadi pekerjaan yang masih jauh dari kata selesai.

Banyaknya pemuda yang mengonsumsi barang haram ini seolah memunculkan pertanyaan tentang sebab mereka mengonsumsinya. Dan jika dilihat dari kehidupannya, kebanyakan dari mereka menggunakannya sebagai obat penenang untuk menghilangkan rasa lelah dan gelisah akibat kejenuhan di hidupnya.

Namun selain hal tersebut, banyak faktor yang menjadi alasan pemuda bahkan orang yang sudah tua memakai narkoba. Kebanyakan dari mereka yang memakai adalah orang-orang yang dipenuhi masalah dalam hidupnya. Bisa jadi anak yang orang tuanya bercerai sehingga dia kurang pengawasan terhadap pergaulannya. Kemudian lingkungan tempat tinggalpun juga berpengaruh terhadap kebiasaan dan tempat bermainnya sehari-hari, karena teman adalah orang yang mereka anggap bisa mereka ajak untuk bersenang-senang bersama-sama tanpa memikirkan segala permasalahan yang ada. Selain itu, banyak juga dari mereka yang beralasan mendapatkan tuntutan lebih dari orang tuanya sehingga mereka merasa tertekan dan kemudian mencari ketenangan lewat narkoba. Banyak sekali hal-hal yang menjadi faktor untuk mengkonsumsi narkoba.

Parahnya, sebagian besar dari mereka yang mengonsumsi narkoba justru tidak mengetahui dampak buruk dari pemakaian narkoba. Mereka tidak mengerti bahwa narkoba ini bisa menjadi candu seumur hidup bagi pemakainya. Ketika mereka sadar, mereka telah bergantung pada barang haram tersebut dan tidak bisa untuk berhenti begitu saja. Akhirnya mereka menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan uang agar bisa membeli narkoba. Entah itu mencuri, atau melakukan perbuatan kriminal lainnya. Bahkan mereka seolah tidak sadar bahwa hidupnya sedikit demi sedikit telah terkikis akibat pengaruh narkoba. Mereka tidak tahu kematian telah membayangi  hidup mereka.

Inilah yang dimaksud dengan sebuah pelarian yang berujung kematian. Dari pencarian sebuah ketenangan instant hingga mereka dengan tidak adar megikis hidupnya sendiri menuju ke kematian. Seperti itulah bahayanya narkoba yang telah merenggut banyak nyawa. Sayangnya meskipun telah banyak kejadian yang merenggut nyawa pemakainya, tetap saja persebarannya tidak terkendali akibat oknumk-oknum yang tidak bertanggung jawab yang terus menyasar para generasi muda.

Untuk itulah Himapro PGMI mengadakan seminar NAPZA agar generasi muda bisa mengetahui lebih awal dampak bahaya dari narkoba. Terima kasih.